Metode Tarjih Muhammadiyah dan Hermeneutika

Amhar Rasyid, Metode Tarjih Muhammadiyah dan Hermeneutika (Jambi: Sutha Press, 2026).

Muhammadiyah adalah organisasi keislaman yang maju pesat pada skala global. Ia tercatat sebagai organisasi keagamaan kelima terkaya di dunia, aset melimpah di berbagai lokasi di luar negeri, institusi pendidikan semakin banyak, dan kehadiran jumlah siswa non-Muslim juga semakin menggembirakan. Pada skala nasional, Muhammadiyah juga sudah lama dan telah semakin berkontribusi aktif dalam memajukan kehidupan bangsa terutama di bidang keagamaan.

Buku ini membahas bahwa di balik kehebatan Muhammadiyah terdapat sebuah think-tank yang bekerja keras untuk melakukan ijtihad kolektif bernama Majelis Tarjih. Dalam berijtihad, ternyata seni memahami teks-teks keagamaan (Al-Qur’an dan Hadis) oleh Majelis Tarjih tak bisa lepas “murni” 100 persen dari historisitas (kesejarahan) ulama-ulama Tarjih, sebab di dalam kepala mereka telah “nongkrong” apa yang dikatakan oleh filsuf Hans-Georg Gadamer sebagai fore-projections (pra-asumsi) yang mereka gunakan sebagai “modal awal” untuk memahami ayat dan Hadis.

Hal itu menarik. Sebagai organisasi keislaman, Muhammadiyah mengidolakan purifikasi (pemurnian) ajaran Islam ala zaman Rasul saw. Namun, kasus Majelis Tarjih menunjukkan ternyata Muham-madiyah tak bisa lepas antara lain dari “bayang-bayang” ideologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945—sementara Islam di zaman Rasul saw tidak dibayangi oleh ideologi semacam itu. Maka dari segi filsafat hermeneutika filosofis Gadamer, usaha pemurnian yang betul-betul objektif melalui purifikasi semacam itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan.

Amhar Rasyid adalah dosen purnatugas Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *