Garim sebagai Mustahik: Perluasan Kriteria Penerima Zakat di Indonesia

Zakat dalam Islam adalah ibadah wajib multi-dimensi yang meliputi dimensi ibadah, sosial, dan ekonomi. Di samping sebagai kewajiban yang merupakan ibadah vertikal kepada Allah, konsep zakat juga menjadi tanggung jawab sosial (al-takāful al-ijtimā‘ī) sekaligus keamanan sosial (al-ta’mīn al-ijtimā‘ī) dan solidaritas sosial (al-damān al-ijtimā‘ī).

Buku ini membahas salah satu dari delapan kelompok penerima zakat, yaitu orang yang terlilit utang atau garim (ghārim), menurut Yūsuf Qaraḍāwī, ulama kontemporer Mesir yang sangat berpengaruh di dunia Islam, dan menurut institusi resmi zakat di Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Menurut Qaraḍāwī, garim yang berhak menerima zakat dibagi menjadi dua kategori, yaitu garim yang utangnya dibelanjakan untuk kemaslahatan diri sendiri (li maṣlaḥat nafsih) dan garim yang utangnya dialokasikan untuk kemaslahatan orang lain (li maṣlaḥat ghayrih).

Dalam implementasinya di Indonesia, BAZNAS memperluas pemaknaan garim melampaui penafsiran Qaraḍāwī, khususnya kategori garim untuk kemaslahatan diri sendiri (li maṣlaḥat nafsih). BAZNAS misalnya menetapkan orang yang tidak dapat melunasi utang yang digunakan dalam kegiatan produktif dan kepentingan sosial sebagai salah satu penerima zakat atas nama golongan garim. BAZNAS juga melakukan fleksibilitas berupa program-program distribusi zakat yang juga bisa diakses oleh garim.


Eja Armaz Hardi adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *