Dokter Insan Kamil: Profil Praktisi Kedokteran Transintegratif

Kategori

D.I. Ansusa Putra, dkk., Dokter Insan Kamil: Profil Praktisi Kedokteran Transintegratif (Jambi: Sutha Press, 2025)

Perkembangan dunia kedokteran kontemporer saat ini meniscayakan pertemuan antara sains murni dan aspek kemanusiaan yang kompleks. Dalam lanskap ini, muncul kebutuhan mendesak akan paradigma baru yang tidak hanya berbasis keahlian medis, tetapi juga keutuhan nilai-nilai spiritual, sosial, dan intelektual. Paradoks kedokteran akan terus terjadi jika institusi pendidikan hanya menekankan pencapaian hasil belajar. Parameter keberhasilan seharusnya juga mencakup kepekaan sosial, kematangan emosional, dan kepedulian terhadap pasien. Calon dokter bukan sekadar teknisi medis, melainkan pemimpin moral dalam ruang klinis. Mereka harus mampu menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam praktiknya. Pendidikan dokter perlu dirancang sebagai proses pembentukan insan kamil, bukan sekadar profesional medis. Ini menuntut paradigma baru dalam visi dan misi institusi pendidikan kedokteran.

Buku ini hadir sebagai sebuah refleksi dan sekaligus peta jalan bagi terbentuknya sosok dokter yang tidak hanya cakap klinis, tetapi juga matang secara spiritual, beretika luhur, dan peka terhadap dinamika sosial. Buku ini mengenalkan sebuah formulasi baru dalam pendidikan dokter melalui pendekatan transintegrasi ilmu yang khas. Transintegrasi ilmu adalah paradigma yang menggabungkan ilmu-ilmu kealaman, sosial, dan agama dalam satu kerangka sistemik dan dinamis. Pendekatan ini tidak melihat ilmu sebagai entitas yang terpisah-pisah, melainkan sebagai satu kesatuan integral yang bersumber pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam konteks ini, dokter diproyeksikan sebagai insan kamil atau manusia paripurna yang memadukan empat pilar utama: ketajaman spiritual, kebenaran ilmu, keindahan akhlak, dan kesiapan profesional. Indikator-indikator insan kamil di dalam buku ini dipetakan ke dalam tujuh area kompetensi Standar Kompetensi Dokter Indonesia, menciptakan integrasi yang harmonis antara nilai dan praktik. Dengan proyeksi itu, calon dokter dibekali bukan hanya dengan pengetahuan medis, tetapi juga literasi sosial, finansial, budaya, dan digital, guna menjawab kompleksitas praktik kesehatan modern. Dalam konteks sosial yang luas, dokter insan kamil adalah figur yang tanggap terhadap disparitas, ketimpangan, dan marginalisasi, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *